Di utara kota Bandung ada banyak kawasan yang betul-betul dijaga kelestariannya. Salah satunya yaitu Taman Hutan Raya (THR atau tahura) Ir. Djuanda Dago. Ada yang menyebutnya dengan THR (taman hutan raya) Dago. Jaraknya sekitar 3,7 km dari Pasar Simpang Dago Kota Bandung Jawa Barat.
Pintu masuk
Kami masuk dari gerbang utama tahura ini. Setelah memarkir mobil dan membayar karcis tanda masuk, kami cari mushalla di hutan Dago ini. Lebih baik shalat dulu dari pada nanti kecapekan setelah meng-explore hutan yang luas ini.
Sekitar 30 meter ke kiri dari tempat pembelian karcis tadi, kami temukan mushalla.


Bangunan mushalla
Mushallanya kecil. Ukurannya mungkin hanya 4 x 6 meter. Hanya ada 3 shaf sajadah sudah termasuk shaf perempuan. Kalau diisi penuh paling hanya bisa menampung 15 – 20 orang jamaah. Tidak ada pembatas antara area shalat laki-laki dan perempuan.
Tempat wudhu ada di sebelah kiri mushalla ini. Bangunan yang terpisah dari mushalla. Tidak disediakan sandal untuk wudhu. Airnya bersih dan sejuk. Khas air pegunungan. Wudhu dengan air sesejuk ini benar-benar bikin adem.


Dinding mushalla ini terbuat dari kaca di semua sisi sehingga tidak mungkin untuk menggantung lukisan kaligrafi. Jadilah hanya ada sticker doff yang dipasang di kaca depan.


Ruang shalatnya bersih. Hanya ada beberapa ranting pinus yang masuk ke dalam mushalla, tapi tidak mengganggu kekhusyukan shalat. Langit-langitnya masih perlu dipercantik lagi. Sajadahnya cukup walaupun kurang wangi.



Menjelajahi hutan
Tidak jauh dari mushalla ada papan petunjuk spot wisata yang bisa disinggahi di dalam hutan ini. Yang terkenal adalah goa jepang, goa belanda, dan curug Omas Maribaya. Melihat jaraknya yang jauh, kami yakin tidak akan bisa meng-explore semuanya. Kami realistis saja: goa belanda. Menapaki hutan sekitar 1,2 km kami pikir masih sanggup.


Berjalan di hutan ini tidak melelahkan bagi yang biasa berolah raga. Medannya landai. Jalannya ada yang sudah beraspal pula. Beberapa bagian jalan dipasangi conblock. Pemandangannya tidak lain hanya pohon dan pohon. Sesekali ada kawanan monyet yang menatap tajam.
Kami tiba di goa jepang. Ada 2 -3 orang anak muda menawarkan senter untuk masuk ke dalam. Kami tidak masuk karena lebih tertarik goa belanda dari pada ini.
Singkat cerita, tiba juga kami di goa belanda. Di mulut goa ini ada lagi anak-anak muda yang menawarkan senter. Tapi berhubung ujung mulut goa di seberang sana terlihat dari sini, kami pikir pakai senter dari handphone juga cukup.
Kami masuk ke goa ini. Sambil berjalan perlahan seraya mengarahkan senter ke kiri dan ke kanan tiba juga kami di ujung. Tapi sayang, kami lupa foto-foto. Lelah.


(Bandung, 5 Juli 2023)